Aku akan bercerita sedikit tentang temanku yang penggemar setia manchester city. Berikut hasil wawancaraku dengan dirinya.Aku memang penggemar setia manchester blue.
Aku gemar manchester city di saat orang-orang gandrung dengan manchester united, chelsea dan liverpool dan arsenal. Pada waktu itu, untuk mendapatkan asesories yang berbau manchester city saja susahnya bukan main.
Waktu itu klub manchester city belum seperti sekarang, dahulu masih dimiliki oleh PM thailand Thaksin sinawatra. Yang kita ketahui bersama banyak terlibat kasus baik di dunia politik maupun dunia bisnis. Kini alhamdulillah klub manchester city semakin mapan dan matang setelah diakuisisi oleh keluarga penguasa Uni Arab Emirat. Nah pada zaman zaman itu, mencintai klub seperti manchester city jelas membutuhkan kesabaran dan loyalitas yang luar biasa.
Manchester city bagiku merupakan perlambang konsistensi dari zero to hero, betapa tidak, aku gemar dengan manchester city saat rekan sekotanya MU telah langganan juara premiere league sebanyak belasan kali. Sementara manchester city belum pernah sekalipun juara.
Pun aku ingat saat saat itu aku gemar manchester city saat kehidupanku terpuruk. Manchester city bagiku bukan lagi sekedar sebuah klub sepakbola, tetapi menjadi lambang resistensi dan perlawanan untuk mendobrak inferioritas dan kemapanan pakem yang sudah umum. Lambang kesetiaanku dalam menjalani kehidupan untuk mendobrak kemapanan dan berontak dari ingeruoritas. Aku menjadi sangat muak dengan manchester united dan sir alex fergusonnya dengan rooneynya. Bagiku mereka semua merupakan lambang kemapanan yang merujuk istilah bung iwan fals harus dibongkar dan dirobohkan.
Menjadi loyalis manchester city, aku belajar tentang arti sebuah kesetiaan. Betapa tidak, selama 48 tahun manchester city belum pernah sekalipun menjuarai premiere league.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar